Upacara Adat Kebo di Jawa Tengah

Upacara Adat Kebo di Jawa Tengah

Foto: indicafisha.blogspot.co.id

 

Reviensmedia.com, Kebumen – Berbicara tentang budaya dan adat istiadat, Indonesia memang tidak ada tandingannya, karena negeri kita ini memang sudah terkenal sebagai negeri yang kaya budaya.

 

Mungkin beberapa daerah telah sengaja menghapus adat istiadat yang telah dibangun nenek moyang mereka. Namun dibeberapa daerah pula masih tetap menjaga kekentalan adat istiadat yang sudah ada sejak zaman dahulu.

 

Seperti di daerah Kebumen, upacara adat kebo/mitoni masih dijaga dan dipraktekkan sampai saat ini.

 

Apa itu kebo /mitoni??? Kebo /mitoni adalah upacara adat yang diperuntukkan bagi seorang wanita yang sedang hamil menjelang kehamilannya yang berusia 7 bulan.

 

Sebenarnya inti dari upacara adat tersebut tidak lain adalah syukuran atas kehamilan yang sudah berusia 7bulan, namun dibarengi ataupun disimbolkan dengan ritual adat yang memang sudah biasa dilakukan oleh masyarakat setempat.

 

Adapun rangkaian upacara tersebut ialah sbb:

  1. Si punya hajat menggelar hajatan layaknya orang nikahan, khitanan, dll
  2. Dihari pelaksanaan upacara adat, mereka membuat sesajian untuk diberikan/diletakkan pada :
  • Diletakkan di makam leluhur setempat
  • Diletakkan di rumah ruang depan
  • Diletakkan dirumah ruang tengah
  • Diletakkan didapur rumah
  • Diberikan kepada dukun beranak setempat

Adapun isi dari sesajian tersebut diantaranya ialah:

  • Nasi
  • Ayam ingkung bakar
  • Sayur dan lauknya
  • Pisang ambon beberapa sisir
  • Beberapa jenis kembang simbol sesaji

 

  1. Setelah membuat sesajian,lalu sang punya hajat mengundang beberapa orang untuk melakukan doa serta pembacaan Surat at-taubah
  2. Setelah itu dilanjut dengan pengambilan air dari 7 sumur
  3. Kemudian dilanjutkan dengan upacara siraman. Rangkaiannya yakni sbb :
  • Suami istri mengenakan kemben menuju tempat siraman(biasanya diarea dekat sumur)
  • Dukun beranak yang pertama kali menyiramkan air dari 7 sumur
  • Siraman kemudian dilakukan oleh orangtua suami istri beserta sanak saudaranya,hingga si istri Berganti kain sampai 7 kali
  • Setelah berganti sampai 7 kali, dukun beranak memasukkan 2 buah kelapa gading (kedalam kain istri) yang sudah digambar dengan simbol sepasang tokoh pewayangan seperti werkudara dan srikandi. Kemudian kelapa tersebut diterima oleh sang ibu mertua, dan lalu digendong menggunakan kain dibawa masuk rumah
  • Sang istri kemudian didandani oleh dukun beranak seperti dibedaki dan dikerok sebagian Rambutnya
  1. Yang terakhir malam harinya diadakan upacara kenduri sebagai inti dari serangkaian upacara adat, juga sebagai simbol rasa syukur berupa sedekah

 

Nah, begitu panjang proses upacara adat yang sangat melelahkan, tidak hanya melelahkan, tapi ternyata biaya yang diperlukan untuk melaksanakan upacara adat tersebut setara dengan biaya pernikahan maupun hajatan besar lainnya.

 

Mungkin faktor biaya tersebut yang akhirnya membuat orang-orang di daerah lain menghapuskan prosesi adat tersebut.

 

Upacara adat yang masih ditemukan di Kebumen ini sebagai percontohan bahwasanya kita memiliki beranekaragam budaya yang cukup unik.

 

Sebagai masyarakat modern, mari kita lestarikan budaya ini. kita ambil sisi positifnya, dan untuk sisi negatifnya kita ambil sekedar sebagai pengetahuan saja.

 

Karena tidak munafik memang jika pola fikir masyarakat zaman dulu dengan kita manusia jaman Now memang bertolak belakang.

 

Tapi, terlepas dari perbedaan pola pikir, point yang harus kita ambil ialah kelestarian budaya/adat istiadat yang harus tetap kita jaga.

 

Jangan sampai budaya kita justru diakui oleh negara lain.