Warisan Nusantara: Biting dan Bungkus Daun Pisang

Warisan Nusantara: Biting dan Bungkus Daun Pisang

Makanan yang dibungkus dengan daun pisang dan dikencangkan menggunakan biting

 

 

Indonesia adalah negara yang kaya raya akan produk kelokalanya. Baik senibudaya maupun kearifan lokalnya. Berbicara mengenai kearifan lokal, bangsa kita gudangnya. Banyak warisan nenek moyang yang bersifat arif dan kelokalan.

 

Perkembangan zaman memang sudah sangat cepat berkembang, namun warisan budaya nusantara ini masih banyak dan harus tetap dipertahankan, agar harmoni antar makhluk hidup terus terjaga. Seperti halnya pemanfaatan produk alam yang diwariskan leluhur kita.

 

Mungkin tidak semua orang mengenal yang namanya biting. Biting merupakan produk dari alam yang diwarisakan oleh nenek moyang kita, terutama orang jawa. Biting itu sendiri memiliki fungsi untuk menyatukan atau merekatkan bungkus maknaan.

 

Dalam bentuk modernya, kita kenal dengan staples. Biasanya biting digunakan untuk menyatukan atau merekatkan bungkus makanan yang terbuat dari daun pisang. Biting itu sendiri terbuat dari lidi daun kelapa, dan dipotong pendek-pendek serta berbentuk runcing di ujung-ujungnya.

 

Teknologi biting itu sendiri entah sudah dari kapan adanya, namun yang jelas ini merupakan sebuah warisan nusantara yang harus tetep di jaga. Karena sekarang ini negara lain berlomba-lomba membuat produk dan bungkus yang ramah lingkungan, nenek moyang kita sudah sejak lama membuat produk ramah lingkungan tersebut.

 

Seperti halnya pembungkus makanan yang terbuat dari plastik. sekarang sudah mulai digencarkan untuk dikurangi karena bungkus-bungkus yang terbuat dari plastik akan lama terurai jika sudah menjadi sampah. Namun nenek moyang kita mengajarkan pemanfaatan daun pisang untuk dijadikan bungkus maknan.

 

Bungkus daun pisang, selain ramah lingkungan, yang sifatnya mudah terurai oleh tanah, juga menambah citarasa sendiri dalam masakan.

 

Jadi kita sabagai bangsa yang kaya akan warisan leluhur, haruslah menjaganya agar semua tetap harmoni dan anak cucu kita juga dapat meraskan warisan yang arif tersebut.

 

Foto: Ngelambyar.wordpress.com