Wisata Religi Ke Makam Mbah Longgopati, Panglima Demak Yang Terlupakan

Wisata Religi Ke Makam Mbah Longgopati, Panglima Demak Yang Terlupakan

Makam Proses Pemugaran

 

Demak: Hay geng sedikit ceita. Sosok makam tua terdapat di pinggiran desa,tempat penulis dilahirkan. Dukuh Mangunan Kidul,Desa Mijen,Kecamatan Kebonagung, Kabupaten Demak. Pada saat penulis masih kecil,sudah terbiasa menggembalakan kambing sambil tidur-tiduran di pelataran makam. Kebetulan di sekitar makam tumbuh rumput yang menghijau,maklum kebun yang tak dirawat oleh pemiliknya.

Waktu satu tahun berjalan,ternyata makam banyak dikunjungi orang peziarah. Karena memang saya sudah berdomisili di luar daerah, sehingga kurang bisa mengetahui perkembangannya.Usut temu usut ternyata makam ini terdapat dua versi tentang asal muasalnya. Hal ini saya ketahui dari seorang tokoh kebatinan di sekitar makam yang kebetulan seorang yang dituakan, bahkan masyarakat memanggilnya orang pintar.

 

Versi I

Adalah seorang pangeran dari Kerajaan Pajajaran Tanah Pasundan, Putra Prabu Siliwangi. Konon beliau akan dinikahkan dengan seorang gadis pilihan orang tuanya, namun tidak mau. Hal ini bukan tidak mau menuruti kehendak sang ayah, namun masih ingin berkelana mencari bekal pengetahuan yang nantinya untuk memimpin rakyat. Orang tua salah menafsirkan apa yang diinginkan sang anak,maka beliau akhirnya diusir dari kerajaan Pajajaran. Mendapat perlakuan seperti itu dari sang ayah,beliau meninggalkan kerajaan setelah berpamitan kepada ayah dan ibundanya.

Berita perginya sang pangeran dari kerajaan, akhirnya terdengar pula oleh adik perempuan yang notabennya adalah adik dan kakak kesayangan. Tanpa berpamitan kepada kedua orang tua, karena sudah dipastikan tidak boleh, sang adik berkelana, dengan maksud mencari sang kakak.

Masa mereka berdua berkelana, walaupun berbeda tempat, akhirnya dipertemukanlah oleh sang pencipta jagat pada sebuah sungai, opak namanya. Semula sang kakak melihat sang adik berada di tepi sungai seberang dengan keadaan kurus tinggal tulang dan kulit,ditambah lagi perutnya membuncit.  Sang kakak berprasangka buruk; ”Adikku belum mempunyai suami, perutnya kok sudah membesar. Ada yang tidak beres ini”. Gumam sang kakak sambil bergemeletuk giginya menahan emosi.

“Adik,ke sini !” Sang kakakpun memanggilnya,walau dengan emosi yang tertahan.

“Kakak. Saya akan menyeberang ke situ” Terlihat sang adik berbinar penuh bercahaya,karena telah ditemukan yang dicarinya.

Tanpa berbasa-basi, sang kakak meminta untuk dipetani (mencari kutu), dengan harapan ingin membuktikan bahwa sang adik sedang hamil. Saat dipetani, sang kakak sengaja menempelkan punggung ke perut adiknya, ternyata perut sang adik bergerak-gerak. Tanpa berfikir panjang dan berdialog, sang kakak menghunus keris dan ditusuklah sang adik. Matilah sang adik dengan berlumuran darah. Namun yang terjadi tatkala sang adik menggelepar-gelepar syakaratul maut, kepiting pada keluar dari dalam kain.

Sang adik berujar; “Kakang,..aku bahagia bisa bertemu. Dari kerajaan sampai di tempat ini, aku tidak pernah makan kecuali dengan kepiting ini. Sengaja saya biarkan hidup dan kantongi, supaya pada saat saya lapar bisa langsung memakan, tidak usah mencari lagi. Saya berkeinginan untuk segera bertemu kakang. Tapi,..yang saya dapatkan malah kematian”.

Dengan berujar seperti itu, terkulai dan matilah sang adik. Sang kakak merasa keduwung (merasa sangat bersalah), tidak berfikir panjang, maka keris yang masih berlumur darah adiknya, dia tusukkan sendiri ke ulu hati. Mereka mati sampyuh (meninggal bersama). Makam itu sampai sekarang diberi nama “Makam Ki Longgopati”, artinya meninggal karena bunuh diri.

Mbah Sarji
Narasumber Makam Mbah Longgopati

Versi II

Alkisah pada jaman awal berdirinya Kerajaan Demak Bintoro pada abad ke 16 yang diperintah oleh Raden Patah (Sultan Jimbun Khalifatullah Panetep Panatagama). Terdapatlah seorang punggawa Kerajaan Majapahit yang sangat loyal terhadap pemerintahan yang berpihak kepada rakyat.

Pada saat Prabu Brawijaya ke V memerintah, terjadilah revolusi frontal, sehingga dirasakan pemerintah tidak berpihak kepada rakyat. Brawijaya hanya sebagai symbol kerajaan belaka tanpa mempunyai wewenang.Hal ini dilakukan semata-mata hanya untuk keutuhan kerajaan saja.

Punggawa yang satu ini tetap komitmen pada sumpah jabatannya sebagai pelayan rakyat. Karena sebagian besar pejabat hanya memperkaya diri saja, maka punggawa yang satu ini dianggap sebagai batu sandungan. Dibunuhlah punggawa ini beserta istri,dengan cara dikoyak-koyak menggunakan senjata tajam. Ternyata sang istri masih hidup dengan tatu arang kranjang (penuh luka sekujur badan).

Pada saat sudah aman, karena memang ditinggalkan begitu saja, ia melarikan diri dengan menggunakan getek (sampan berupa kayu glondong dirangkai) dan mengikuti arus sungai. Ternyata ada seorang anak yang masih bayi di dalam dekapannya. Saat itu ada seorang wanita sedang mencari kayu di pinggir sungai, mendengar suara tangis seorang bayi. Ternyata bayi berada di dalam dekapan seorang wanita yang sedang tengkurap dan badannya penuh luka.

Nampak bagian dalam makam

Ditolonglah mereka berdua dan dirawat,sehingga sang ibu sembuh dari semua luka.Sang bayi akhirnya tumbuh menjadi seorang pemuda yang gagah dan tampan.Pada akhirnya si bayi tersebut diketahui bernama Surya Panji.Mereka bertiga membuka hutan menjadi sebuah perkampungan.

Tanpa diketahui mempunyai keturunan ataukah tidak, mereka bertiga akhirnya meninggal dan dimakamkan di tempat itu. Longgopati berasal dari kata Linggopati yang artinya orang yang dimulyakan.

Sampai sekarang belum jelas tingkat kebenarannya. Wallaahu a’lam.

Sesuai ijma’ para peziarah, karena memang lokasi lebih dekat dengan Demak, maka mereka meyakini bahwa makam Ki Longgopati adalah anak istri punggawa dari kerajaan majapahit dan juga penolong. Namun nama makamnya tetap  Ki Longgopati.

Banyak peziarah yang bertawasul untuk mendoakan agar diberi kesehatan lahir maupun batin.Setiap hari kamis malam jum’at selalu dibanjiri peziarah ,baik lokal maupun luar kota.