Yakin Sudah Kembali ke Fitrah ? "Jangan Ternodai Karena Seuntai Kata"

Yakin Sudah Kembali ke Fitrah ?  "Jangan Ternodai Karena Seuntai Kata"

Ramadhan berlahan tapi pasti telah meninggalkan kita. Dan Syawal pun berlalu, hari raya idul fitri yang katanya semua kan bersih kembali suci ke fitrahnya sudah kita lewati. Namun berkaca pada diri, pada hati dan sikap benarkah kita sudah demikian ?

 

Seminggu dua minggu bahkan satu bulan lebaran pun telah berlalu, tapi apakah barokah dan kebaiakn- kebaikan ramadhan masih terbawa sampai saat ini pada kita ?

 

Yakin sudah kembali ke fitrah ?

Jangan sampai ternodai karena seuntai kata. Sadar atau pun tidak, terkadang secara spontan sengaja ataupun tidak kata demi kata itu teruntai menjadi ucapan tak mengenakan dan parahnya lagi kita tak menyadari bahwa itu fatal dan menyinggung perasaan.

 

Hal yang menurut kita biasa saja namun sebenarnya itu tak semua merasa biasa bahkan ada yang pura- pura bersikap agar terlihat biasa saja padahal sesungguhnya dia memendam kecewa ketika mendengarnya. Untaian kata ini seperti musiman terdengar saat berakhirnya Ramadhan dan muncul lah syawal. Ketika berkumpul bersama sanak saudara, rekan kerja, teman sekolah atau reunian kampus. Apa saja untaian kata- kata itu ??

 

  1. Biasanya yang baru – baru lulus saat reunian atau kumpul bareng yang di Tanya pekerjaan, parahnya menanyakan salary dan bonafit atau tidaknya perusahaan. “ kerja dimana, gaji berapa ?”

 

Hey dear, hidup ini misterius tak semua itu biasa. Pertanyaan pekerjaan apalagi memperhitungkan kebonafitan perusahaanya atau salary-nya itu fatal terlalu sensitif untuk diceritakan, kamu tak pernah tahu seberapa sulitnya perjuangangan untuk mendapatkanya. Kamu tak pernah tau seberapa kerasnya kerja yang iya lakukan tuk mencapai yang terbaik baginya. teradang untaian kata kita itu tak terkontrol dengan baik, terlalu ingin tahu lebih dalam, yang semestinya kamu tak perlu tau itu. Kecuali dia teman dekat mu dan dia  menceritakan dengan kerelaan hatinya.

 

  1. "Kapan nikah ?

Kan udah mapan ini, kuliah udah, kerja udah oke, umur udah pas apa lagi sih yang dicari, kamu sih milih- milih.”

 

Sepertinya pertanyaan ini sepele, apa lagi kamu bumbu- bumbi dengan untaian kata, “ kamu sih milih- milih, kejar karir terus.”

 

Iya Sepele sih, seperti gurauan, tapi tak semua orang merasa ini biasa saja, bahkan ada yang sensitif ketika kamu tanyakan itu, dan bisa saja kamu membuat dia merasa sedih. kamu hanya melihat dari sisi luarnya saja, tapi tidak pernah tahu tentang usaha dan senandung- senandung do’a setiap sepertiga malamnya. Usaha memperbaiki dirinya, usaha untuk kemapananya, hingga siap pada waktunya. Semua itu kembali lagi pada takdir. Mana ada sih orang tak mau menikah, kecuali orang yang traumatik luka mendalam terhadap satu kejadian, dan tak menutup kemungkinan bisa saja dia berubah.

 

  1. “suami/ istrinya siapa, keluargnya siapa, kerja dimana, tinggal dimana, di perumahan mana ?

 

kok disana sih tinggalnya kan gak nyaman, kurang aman ?”

 

dan selanjutnya pertanyaan- pertanyaan pribadi yang mestinya untaikan kata itu tak perlu terucap terlalu nyinyir atau kepo, karena tak semua orang suka atas pertanyaan itu.

 

Duh, penting banget ya kita tau semuanya, teman kita nikahnya dari keluarga siapa, kerja apa tinggal dimana. Sekedar tahu sih tak mengapa, tapi jangan terlalu dalam hingga ranah privasinya di korek- korek keakarnya. Tak semua orang suka menceritakan tentang keluarganya, tak semua orang ingin mengumbar kemesraan, kemewahan atau keberadaan hartanya. Kalaupun belum apa adanya tak perlu juga komentar yang membuat dia merasa tak berarti. Kau tak pernah tau perjuangan pasangan pengantin baru yang hidup mulai dari 0, berusaha membangun rumah Syurga dunianya dengan sepenuh tenaganya, menyicil semua kebahagian- kebahagiaanya. Tak sepantasnya komentar nyiyir ini terucap.

 

  1. setelah nikah selanjutnya, pertanyaan kapan punya anak, kamu menunda- nunda ya ?

 

ini lah siklus manusia, tak kan pernah habis- habisnya pertanyaan kepo-nya. Dear kamu harus tau ini pertanyaan super duper sensitive, apalagi kamu tanyakan ini yang hampir setahun dua tahun masa pernikahan. Dengan mudahnya mulut itu berucap untaian kata komentar yang sok tahu dan sebenaranya kau tak thau. Buka mereka menunda- nunda atau tak mau, kamu tak pernah tahu begitu menantinya mereka pada masa itu, begitu kerasnya upayah mereka berobat kemana- mana tuk mendapatkannya, kamu tak pernah tahu begitu gigihnya mereka kesana kemari menjalani terapi bahkan rela meminum obat herbal yang rasanya tak pernah ada yang melezatkan. Dan mereka pun tak mungkin juga mengumumkan semua usaha upayahnya itu. Tak sedikit ketika mendengar pertanyaan itu kamu membuatnya sedih, bahkan ketika pulang kerumah mereka menangis.

 

 

Nah, sudah tau kan dear, hati- hati menguntai kata dari sebuah ucapan, hati- hati juga keceplosan. Niatnya sih, gurauan, candaan. Tapi tak semua orang demikian. Jangan sampai juga kamu- kamunya berdalih “ aghh dianya aja yang sensian, kan Cuma nanya, kan Cuma candaan ?” .. heloo… itu kata kamu,, bukan kata mereka,  tak semua bisa menerima dan tak semua persepsi sama. Belajarlah bijak dan menghargai setiap privasi yang ada, apalagi terhadap orang- orang yang baru kamu kenal.  Kamu tak tahu perjuangan mereka dibalik itu semua, jangan mudah berkomentar apalagi nyinyir, berhentilah menilai apa yang kau lihat, karna sejatinya yang kau dengar, yang kau lihat, tak semua sama pada kenyataanya.

 

Akan lebih baik dari pertanyaan- pertanyaan musiman ini, ketika teman mu belum mendapatkan pekerjaan, kamu memberikan informasinya. Yang belum nikah , mungki kau ada rekomendasi keluarga atau kerabatmu yang masih sendiri, untuk temanmu pengantin baru yang masih berusaha terhadap kebahagiaanya, keturunanya atau semua yang selama ini hanya bisa kau komentari kan berasa lebih indah dan syahdu jika kamu mendo’akanya. Jangan sampai barokah, kesucian ramadhan, kebaikan- kebaikan Ramadhan yang kamu kumpulkan itu mengilang tak bersisa dikarenakan ternodai seuntaian kata.

 

Jujur, ini sekedar sharing dari curhatan teman- teman semua, mohon maaf tak ada bermaksud tuk mengguri, atau menyindir. Dan ini merupakan self reminder and self  reflection bagi saya pribadi. Agar lebih baik lagi, menjaga sikap, prilaku, lisan dan juga hati. Dan jangan lupa untuk kita semua bawa keberkahan dan kebaikan- kebaikan ramadhan pada bulan- bulan selanjutnya agar kita benar- benar kembali pada fitrah yang hakiki.

@kin_Chaniago

Foto via https://deskgram.org/diary.jofisa/taggedin?next_id=1657117051082750854