Netizen Toxic Enggak Mungkin Bisa Menerapkan Mindset ini

Netizen Toxic Enggak Mungkin Bisa Menerapkan Mindset ini

Photo by bruce mars on Unsplash

 

Mindset apa yang tidak bisa diterapin oleh Netizen Toxic? Namun sebelum sampai kesitu, lebih baik kita kulik sebentar apa itu Netizen Toxic?. Yup, Netizen Toxic secara garis besar itu memiliki ciri khas  suka marah-marah enggak jelas di sosmed alias sumbu pendek, padahal enggak tahu permasalahannya apa. Netizen tipe ini sering dikaitkan dengan fans atau artis junjungannya. 
 

Bisa juga baru baca judul udah cuat-cuit sok benar. Ikut nimbrung pada suatu masalah yang sebenernya dia sendiri enggak tau masalahnya apa, dan ada lagi tipe suka menghujat hubungan orang.

Nah tipe-tipe ini enggak mungkin bisa menerapkan mindset tersebut, dan menjadi masalah juga yang ternyata dia toxic. Mereka tidak merasa toxic dan membenarkan tindakkannya, apalagi setelah baca artikel ini lalu marah-marah udahlah selesai.
 

Nah, lalu mindset apa yang dimaksud? Kalian tahu NLP enggak? NLP adalah Neuro Linguistik Program yang didirikan oleh 2 tokoh besar yaitu John Grinder dan Robert Bandler pencipta NLP dengan metodologi yang ditujukan untuk memahami dan mengubah pola perilaku manusia. Lalu apa saja mindset NLP? Ada 3 gaes mindset ala NLP yang mesti kalian tahu yaitu Asumsi, Aksi dan Reaksi.
 

Kita hanya membahasi satu mindset saja yaitu Asumsi, karena kalau dibahas semua mahal cuy....!! kalian mesti ikut seminarnya. Nah, coba bisa enggak kalian, berusaha menyadari bahwa orang lain memiliki dunianya sendiri, berusaha berpikir objektif. Lalu selalu berpikir positif, bahwa dibalik perbuatan seseorang pasti ada niat baik. Misalkan ada pencuri yang tertangkap, bisa nggk kalian bertanya kenapa dia mencuri, alasannya apa? 
 

Sikap kalian merupakan suatu tindakan yang mencerminkan cara berpikir dan perasaan kalian gaes, so coba renungkan sejenak dan pikirkan apakah kalian itu toxic, coba highlight sejenak perbuatan kalian di sosmed, komen-komen kalian apakah kalian itu toxic terapkan mindset ala NLP ini.

 

Penulis: Budi Cesar