Pentingnya Perawatan Berkelanjutan Cagar Budaya

Pentingnya Perawatan Berkelanjutan Cagar Budaya

Foto: kebudayaan.kemdikbud.go.id

 

Jika pendataan situs-situs cagar budaya telah berhasil dilaksanakan, maka proses selanjutnya adalah terus merawat dan melestarikannya. Pihak Kemendikbud harus mengontrol pimpinan daerah bagian kebudayaan untuk mengurus cagar budaya dengan baik. Banyak situs-situs cagar budaya yang setelah diakui tetapi justru minim perawatan, sehingga banyak wisatawan urung mengunjungi.

Kalau perawatan yang baik telah dilakukan, maka fase selanjutnya adalah mempromosikan cagar budaya tersebut sebagai objek wisata yang dapat dikunjungi untuk keperluan pembelajaran dan penelitian. Cagar budaya ini harus mendapatkan perhatian dari masyarakat sehingga perawatan dapat terus dilakukan karena ada pemasukan dari pengunjung.

Dilakukannya perawatan secara rutin dan berkelanjutan dapat menghambat kecenderungan  dan proses kerusakan objek. Pelan tetapi pasti sebuah objek akan mengalami degradasi kondisi karena faktor internal dan eksternal. Menghilangkan proses itu akan sangat mustahil, karena objek fisik tidak ada yang abadi. Oleh karena itu, yang dilakukan adalah melakukan upaya menghambat dan mengendalikan ancaman kerusakan.

Merawat dan mengelola peradaban yang terdiri dari momentum, waktu,  dan memori kolektif melalui jejak-jejak peradaban yang ada bukanlah perkara sederhana. Artinya, harus disadari berbagai upaya yang dilakukan tidaklah sekedar mengawetkan tanpa makna, tetapi harus juga diarahkan  menjaga eksistensi dan nilai-nilainya  untuk mengelola masa depan. Program pelestarian yang dilakukan bukanlah sesuatu yang dapat dikatagorikan sebagai pemborosan dan bahkan langkah sia-sia. 

Hal itu dapat dimaknai sebagai investasi kebudayaan dan menjaga eksistensi cagar budaya. Dengan demikian, suatu daerah akan dapat mempertahankan kharakter, wawasan kultural, menumbuhkembangkan kepedulian, dan sikap partisipatoris. Proses pelestarian yang dikonfigurasikan tidak hanya berhenti  kepada dimensi fisik tunggal, rekonstruksi objek, lingkungan, tetapi juga informasi pengetahuan sebagai bagian substansi  objek.

Dengan mengunjungi cagar budaya, masyarakat jadi lebih tahu mengenai sejarah dan asal-usul di dalamnya. Tatanan objek dalam situs cagar budaya pun bisa dimodel lebih kekinian agar banyak anak muda yang berkenan untuk datang. Mengenali budaya dan mencintai sejarah bangsa bukan hanya tugas anak yang masih sekolah, tetapi seluruh masyarakat Indonesia. Cagar budaya menjadi salah satu destinasi yang tepat untuk mempelajarinya tanpa harus membaca buku atau mendengarkan guru. (cc)

 

Sumber: Kemendikbud